Kanker Payudara

 



Penyakit kanker payudara merupakan penyebab utama kematian diantara semua penyakit kanker yang dialami wanita di Indonesia. Penyakit kanker merupakan salah satu masalah kesehatan di seluruh dunia, meningkatnya angka kematian akibat kanker payudara salah satunya karena terdeteksi pada stadium lanjut (WHO, 2014). Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang umum pada wanita. Kanker payudara merupakan tumor ganas yang tumbuh didalam jaringan payudara. Setiap tahun lebih dari 185.000 wanita didiagnosa menderita kanker payudara. Insiden penyakit ini semakin meningkat di negara-negara maju (Kemenkes RI, 2015). Data Global Cancer Observatory tahun 2018 menunjukkan angka kejadian penyakit kanker di Indonesia (136,2/100.000 penduduk) berada pada urutan 8 di Asia Tenggara, sedangkan di Asia urutan ke 23. Angka kejadian untuk perempuan yang tertinggi adalah kanker payudara yaitu sebesar 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk yang diikuti kanker leher rahim sebesar 23,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 13,9 per 100.000 penduduk (Kemenkes RI, 2019).

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mengendalikan kanker payudara adalah dengan melakukan pencegahan primer seperti pengendalian faktor risiko dan peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi. Pencegahan sekunder dilakukan melalui deteksi dini kanker payudara yaitu pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) (Kemenkes RI, 2015). SADARI merupakan metode pemeriksaan sederhana dan paling mudah yang dapat dilakukan dengan menggunakan jari-jari tangan. Kanker payudara yang ditemukan pada fase dini kemungkinan dapat sembuh 95% (Departemen Kesehatan RI, 2009). SADARI dilakukan di depan cermin dengan cara inspeksi untuk melihat perubahan bentuk payudara dan palpasi melalui perabaan untuk mendeteksi adanya massa (Kumalasari & Andhyantoro, 2012).

Memahami Payudara Sendiri


Sebelum masuk pada pembahasan mengenai kanker payudara, sebaiknya kita mengenali terlebih dahulu seluk-beluk tentang payudara yang normal. Seorang perempuan akan sulit menyadari ada kelainan pada payudaranya sendiri jika ia tidak mengenali seperti apa payudara yang hormal atau tanpa kelainan.

Payudara yang normal berjumlah sepasang dan selalu terletak di bagian dada-ada suatu kelainan ketika terdapat payudara tambahan yang tidak terletak di dada tetapi di bagian tubuh lainnya, misal ketiak. Namun, kita tidak akan membahas itu di sini. Payudara baru mulai berkembang pada perempuan menjelang menstruasi pertama dan terus berkembang sepanjang masa remajanya.

Pertumbuhan payudara ini sangat dipengaruhi oleh berbagai hormon-zat-zat yang ukurannya sangat kecil dan tidak ter lihat dengan mata, yang berfungsi sebagai "pengantar pesan" di dalam tubuh-terutama hormon estrogen. Normalnya, estrogen dihasilkan oleh ovarium atau indung telur-suatu organ yang letaknya berdekatan dengan rahim dan jumlahnya sepasang. Estrogen adalah hormon yang berperan penting dalam kehidupan perempuan. Keberadaannya (estrogen) menjadikan tubuh perempuan memiliki bentuk dan fungsi yang khas. Namun, estrogen juga dikaitkan dengan risiko kanker payudara, baik secara langsung maunun tidak langsung.

Secara garis besar, struktur payudara bisa kita bagi menjadi dua macam. Pertama, kelenjar susu beserta salurannya. Fungsinya adalah untuk menghasilkan air susu ibu (ASI) segera setelah melahirkan. Kedua, struktur yang memberi bentuk pada payudara, yaitu jaringan lemak dan kulit. 

Dalam setiap payudara, ada setidaknya 12-20 kelenjar susu. Bila diperbesar dengan kaca pembesar mikroskop, akan tampak bahwa sebenarnya masing masing kelenjar susu ini tersusun menyerupai buah anggur. Pada perempuan yang tidak hamil dan melahirkan, kelenjar susu ini tidaklah aktif. Setelah melahirkan, setiap kelenjar susu tersebut menghasilkan air susu ibu (ASI) yang masuk kedalam saluran ASI. Saluran ini menyatu dengan saluran lainnya yang lebih besar. Begitu seterusnya hingga semua saluran tersebut bermuara pada puting susu. Dari puting susu, seluruh ASI tersebut disalurkan ke luar dari tubuh sehingga bisa menjadi nutrisi bagi sang bayi. 

Kelenjar susu dan puting susu, keduanya, dilingkupi oleh jaringan lemak. Bersama dengan jaringan penunjang, lemak ini memberikan bentuk pada payudara. Jadi, bila dirangkum, normalnya payudara pada perempuan terdiri atas kelenjar susu, saluran yang mengalirkan susu dari kelenjar susu ke puting, jaringan lemak, dan jaringan penunjang. Seluruhnya ada tepat di bawah kulit dan di atas otot dada

Selain dari struktur yang telah disebutkan di atas, ada juga saluran kelenjar getah bening (KGB). Kelenjar getah bening merupakan bagian dari sistem imun (kekebalan tubuh) yang berfungsi menampung sel imun yang berperan penting melawan infeksi. Selain sel imun, kelenjar getah bening juga berisi cairan dan produk penghancuran sel yang rusak, mikroorganisme, atau benda asing. Pada payudara, sebagian besar pembuluh getah bening nya bermuara di kelenjar

Pengertian



Kanker payudara merupakan kanker yang berasal dari sel-sel yang terdapat di payudara, bisa dari sel-sel saluran air susu atau sel-sel kelenjar penghasil air susu atau jaringan lain.5 Kanker ini terjadi hampir seluruhnya pada wanita, tetapi dapat juga terjadi pada pria.5 Di Amerika Serikat, diperkirakan 231.840 wanita didiagnosis kanker payudara pada tahun 2015.6 Pada tahun 2012, kanker payudara menempati peringkat kedua setelah kanker paru sebagai penyebab kematian utama karena kanker di Amerika Serikat.4,6 Di Indonesia, diperkirakan 51.136 wanita didiagnosis kanker payudara pada tahun 2015.7 Penyakit ini juga menjadi penyebab kematian utama karena kanker di Indonesia pada tahun 2012.4

Faktor Risiko

Faktor risiko adalah hal-hal yang mempengaruhi kemungkinan seseorang untuk menderita penyakit. Beberapa faktor risiko tidak dapat diubah, misalnya usia dan ras, namun terdapat faktor risiko lain yang dapat diubah, misalnya yang berkaitan dengan gaya hidup. Faktor-faktor risiko kanker payudara yang tidak dapat diubah antara lain:  

- Jenis kelamin: Wanita sekitar 100 kali lebih sering mengalami kanker payudara dibandingkan pria. Hal ini mungkin karena pria kurang memiliki jaringan payudara dan hormon estrogen dan progesteron yang dapat memicu pertumbuhan sel kanker payudara.

- Usia: Risiko meningkat seusai usia. Sekitar 1 dari 8 kanker payudara invasif dijumpai pada wanita usia

- Usia: Risiko meningkat seusai usia. Sekitar 1 dari 8 kanker payudara invasif dijumpai pada wanita usia

- Gen-gen tertentu yang diwariskan: Sekitar 5-10% kasus kanker payudara diperkirakan herediter dan penyebab yang paling sering OPINI 144 CDK-261/ vol. 45 no. 2 th. 2018 CDK-261/ vol. 45 no. 2 th. 2018 145 adalah mutasi gen BRCA1 dan BRCA2, yang normalnya menjaga sel-sel dari pertumbuhan tidak terkontrol.

- Perubahan gen-gen lain: Mutasi gen lain yang diwariskan lebih jarang dijumpai dan sering tidak meningkatkan risiko kanker payudara. Contoh gen-gen lain tersebut adalah ATM, TP53, PTEN, dan lain-lain.

- Riwayat kanker payudara dalam keluarga: Memiliki ibu, saudara, atau anak dengan kanker payuda

Gejala

Kanker payudara umumnya tidak menimbulkan gejala jika ukurannya masih kecil. Jika kanker payudara sampai teraba, pasien sering hanya mengeluhkan benjolan tidak nyeri. Kanker payudara juga dapat menyebar ke kelenjar getah bening ketiak dan menimbulkan benjolan, bahkan sebelum ukuran tumor payudara primer cukup besar untuk diraba. Gejala lain kanker payudara yang mungkin dijumpai, yaitu pembengkakan di seluruh atau sebagian payudara, iritasi kulit (dimpling), nyeri payudara atau puting, retraksi puting, kulit payudara atau puting memerah, mengelupas, atau menebal, keluarnya sekret dari payudara (selain air susu).

Wanita dengan Risiko Rata-Rata Kanker Payudara

Wanita dengan risiko rata-rata adalah wanita tanpa riwayat menderita kanker payudara, tanpa riwayat kanker payudara dalam keluarga, tidak mengalami mutasi gen yang meningkatkan risiko kanker payudara, atau tanpa riwayat radioterapi di dada pada usia muda. Wanita dengan risiko tinggi kanker payudara harus melakukan pemeriksaan MRI dan mammografi setiap tahun. Wanita tersebut adalah wanita dengan:

Ø  Risiko kanker payudara sekitar ≥20-25%. Penilaian risiko dapat menggunakan Gail model yang berdasarkan pada faktor seperti usia menarche, riwayat biopsi payudara, dan riwayat kanker payudara dalam keluarga

Ø  Mutasi gen BRCA1 atau BRCA2

Ø  Riwayat mutasi gen BRCA1 atau BRCA2 pada keturunan pertama

Ø  Pernah mendapat terapi radiasi di dada saat usia antara 10-30 tahun

Ø  Sindrom Li-Fraumeni, sindrom Cowden, atau sindrom Bannayan-Riley-Ruvalcaba, atau riwayat salah satu sindrom tersebut pada keturunan pertama.

Pada wanita dengan risiko tinggi, skrining dengan MRI dan mammografi dimulai pada usia 30 tahun dan dilanjutkan selama dalam keadaan sehat. Namun, karena terbatasnya bukti klinis mengenai usia saat memulai skrining, keputusan sebaiknya didasarkan pada kesepakatan antara pasien dan dokter terkait preferensi dan keadaan pasien.

Pemeriksaan ini, khususnya di negara berkembang, masih mengalami kendala, seperti: terbatasnya ketersediaan alat/fasilitas MRI khusus payudara di rumah sakit/klinik dan biaya yang mahal.

Deteksi Dini

Di Indonesia, lebih dari 80% kasus kanker payudara didiagnosis pada stadium lanjut.10 Deteksi dini bertujuan mendiagnosis kanker payudara lebih awal, sehingga menurunkan morbiditas dan mortalitas. Panduan Nasional Penanganan Kanker Payudara versi 1.0 2015 menyatakan pentingnya upaya pencegahan dan skrining kanker payudara.

Hingga saat ini mammografi masih menjadi salah satu modalitas skrining paling efektif yang diakui oleh berbagai kalangan medis ahli di dunia, dan bahwa manfaat skrining dengan mammografi berbanding lurus dengan meningkatnya usia, namun kontroversi efektivitas, biaya skrining, dan radiasi juga menjadi pertimbangan. Komunikasi dan keterbukaan informasi antara dokter dan pasien sangat penting dalam penentuan kapan perlu dimulai skrining.

ACS tidak memasukkan pemeriksaan klinis payudara dan payudara sendiri dalam rekomendasinya,8 tetapi USPSTF (US Preventive Services Task Force) masih memasukkan pemeriksaan payudara klinis sebagai bagian dari skrining dengan catatan bahwa dalam praktik belum ada teknik standar pemeriksaan tersebut.

Dalam Panduan Nasional Penanganan Kanker Payudara versi 1.0 2015, pemeriksaan payudara berkala masih menjadi bagian deteksi dini.10 Pemeriksaan klinis masih dapat mendeteksi sejumlah kasus kanker payudara dengan limitasi antara lain hasil positif palsu yang menyebabkan dilakukannya pemeriksaan imaging dan biopsi.18 Semua panduan tetap menganjurkan agar semua wanita familiar dengan payudaranya sendiri dan segera melaporkan jika terdapat perubahan pada payudaranya.

Mammografi



Mammografi bermanfaat untuk mendeteksi perubahan pada payudara sebelum tanda dan gejala muncul. Pada pemeriksaan ini, payudara ditekan di antara 2 lempengan sehingga payudara “memipih”. Jika hasil pemeriksaan mammografi menunjukkan bagian abnormal yang dicurigai kanker, diperlukan biopsi untuk memastikan diagnosis. Jika hasil pemeriksaan mammografi tidak menunjukkan tumor, tetapi pasien atau dokter merasakan adanya benjolan, biasanya dilakukan biopsi untuk memastikan bahwa benjolan tersebut bukan kanker, kecuali jika temuan ultrasound menunjukkan benjolan tersebut adalah kista yang kecil kemungkinannya kanker. Beberapa studi menunjukkan bahwa risiko kematian karena kanker payudara turun hingga 10-25% pada wanita yang melakukan mammografi berkala dibandingkan pada wanita yang tidak.

Menurut Panduan Nasional Penanganan Kanker Payudara versi 1.0 2015, mammografi berperan penting terutama jika ukuran tumor kecil atau tidak teraba.10 Sensitivitas pemeriksaan ini bervariasi 70-80% dengan spesifisitas 80-90%. Namun dalam panduan ini, belum terdapat acuan interval skrining dengan mammografi.

USPSTF setuju bahwa skrining berkala (setiap 1-2 tahun) efektif menurunkan mortalitas akibat kanker payudara pada wanita usia 40-74 tahun, dan lebih bermanfaat pada wanita usia 50-74 tahun.17 Rentang usia 40-49 tahun menjadi area ‘abu-abu’ bagi berbagai kalangan, mengenai kapan perlu dimulainya skrining mammografi. USPSTF tidak memberikan ketegasan tentang usia yang tepat untuk memulai skrining mammografi. Namun, mammografi tahunan akan dimulai pada usia 40 tahun (juga anjuran kebanyakan asosiasi medis; ACS menganjurkan dimulai pada usia 30 tahun jika risiko tinggi) jika wanita memiliki risiko rata-rata kanker payudara, sedangkan mammografi setiap 2 tahun dimulai saat usia 50 tahun.

Pemeriksaan Payudara Klinis dan Pemeriksaan Payudara Sendiri

Promosi kesehatan menurut WHO merupakan proses mengupayakan individu-individu dan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan mengendalikan faktor-faktor kesehatan sehingga bisa meningkatkan kesehatan nya. Pelaksanaan promosi keschatan tentang kanker payudara yang dilakukan dengan metode SADARI. SADARI merupakan salah satu cara untuk mendeteksi dini adanya kanker

SADARI merupakan pemeriksaan pada payudara sendiri untuk menemukan benjolan yang abnormal (Mulyani, 2013). Selain itu Romauli (2009) menyatakan bahwa SADARI adalah usaha atau cara pemeriksaan pada payudara secara rutin dan sistematik yang digunakan sebagai upaya untuk screening kanker payudara. SADARI dilakukan dengan tujuan untuk mendeteksi sedini mungkin adanya kanker payudara, sehingga bisa dilakukan pengobatan sedini mungkin dan untuk menurunkan angka kematian akibat kanker payudara. Cara ini sangat efektif dan efi sien karena dengan melakukan SADARI secara rutin dapat menekan angka kematian sebesar 25–30%.

Keuntungan yang didapat dengan melakukan SADARI adalah dapat meningkatkan harapan hidup penderita kanker payudara, karena dapat terdeteksi secara dini serta metode ini dapat dilakukan dengan mudah, murah, dan sederhana. Pada pemeriksaan payudara sendiri ini hampir 85% benjolan abnormal ditemukan oleh penderita sendiri melalui pemeriksaan dengan langkah yang benar (Nisman, 2011). SADARI dapat dilakukan setiap satu minggu setelah haid, apabila telah berhenti haid atau menopause maka SADARI dapat dilakukan setiap satu bulan sekali pada waktu yang sama (Nisman, 2011). SADARI harus dilakukan oleh setiap wanita dewasa, utamanya pada wanita usia subur (WUS).

Perilaku deteksi dini dengan SADARI dapat dilakukan dengan baik apabila pengetahuan yang dimiliki baik. Pada penelitian Ekanita (2013) didapatkan bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik tentang SADARI lebih banyak yang melakukan SADARI secara rutin, dan tidak ada yang tidak pernah melakukan SADARI. Sedangkan pada responden yang memiliki pengetahuan kurang sebagian besar tidak pernah melakukan SADARI. Pamungkas (2015) menyatakan bahwa seseorang yang memiliki pengetahuan baik cenderung akan memiliki perilaku SADARI yang baik pula.

Menurut Panduan Nasional Penanganan Kanker Payudara versi 1.0 2015, tindakan skrining yang dapat dilakukan adalah:

1. PerikSA payuDAra sendiRI (SADARI): SADARI dilakukan oleh wanita mulai usia 20 tahun dan dilakukan setiap bulan, 7-10 hari setelah hari pertama haid terakhir.

2. PerikSA payuDAra kliNIS (SADANIS): SADANIS dilakukan oleh petugas kesehatan terlatih. Pemeriksaan ini dilakukan sekurangnya 3 tahun sekali atau apabila ditemukan adanya abnormalitas saat SADAR. Perbeda dengan ACS dan USPSTF, Indonesia masih memasukkan SADARI dan SADANIS sebagai bagian dari skrining. Hal ini mungkin karena SADARI termasuk pemeriksaan yang tidak membutuhkan biaya dan dapat dilakukan oleh semua wanita mulai usia 20 tahun. Sedangkan mammografi membutuhkan biaya dan fasilitas yang belum tersedia di setiap fasilitas kesehatan. Perlu dipertimbangkan peran edukasi dari petugas kesehatan untuk meningkatkan awareness dan langkah-langkah pemeriksaan. SADANIS

 

SIMPULAN

Kanker payudara termasuk kanker yang sering dijumpai baik di negara maju maupun di Indonesia. Penyakit ini umumnya tidak menimbulkan gejala terutama jika ukurannya masih kecil. Oleh karena itu, perlu dilakukan deteksi dini kanker payudara dengan mammografi, pemeriksaan payudara sendiri, pemeriksaan payudara klinis dengan berbagai pertimbangan dan kondisi individual. Semua wanita di awal usia 40 tahun harus mengetahui manfaat, keterbatasan, dan potensi risiko berkaitan dengan skrining kanker payudara dengan mammografi seperti penurunan risiko kematian, adanya hasil positif palsu, overdiagnosis, ketersediaan fasilitas, dan sebagainya. Dengan adanya kontroversi dari berbagai kalangan medis mengenai manfaat serta potensi risiko dari pemeriksaan mammografi, komunikasi, dan keterbukaan informasi antara dokter dan pasien sangat penting untuk memutuskan kapan dimulainya skrining berkala. Selain itu, semua wanita harus mengetahui payudara yang normal, yaitu: tidak terdapat benjolan pada payudara, ketiak, dan sekitarnya, tidak terdapat perubahan bentuk payudara dan kulit payudara, tidak ada cairan yang keluar dari payudara selain air susu saat menyusui; dan segera melaporkan


Daftar Pustaka:

Andita, Utut. 2016. PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN SADARI DENGAN MEDIA SLIDE DAN BENDA TIRUAN TERHADAP PERUBAHAN PENGETAHUAN WUS, vol. 4, no. 2, p. 179, e-journal.unair.ac.id/PROMKES/article/view/7649. diakses pada tanggal 13 Nov. 2020 pukul 09.30.

Briani, Farida. 2017. Cerdas Menghadapi Kanker Payudara. kelompok GEMA INSANI: Jakarta, pp. 15-18.

Yuliana, Yuliana.2015. Risiko dan Deteksi Dini Kanker Payudara, vol. 45, no. 2, pp. 144-148, www.cdkjournal.com/index.php/CDK/article/view/177.diakses pada tanggal 13 Nov.2020 pukul 09.20

Hadrianti. 2019. PROMOSI DAN PENCEGAHAN KANKER PAYUDARA BERBASIS MEDIA SOSIAL. Myria Publisher: Kab.Ponorogo, p. 3.

Comments